Rabu, 12 Februari 2014

Happily Ever After?

Saat kepulangan saya ke kampung halaman saat imlek kemarin, saya menemukan album kenangan saat saya SMP, disana tertulis impian dan cita-cita saya: Bukan seorang dokter, pilot ataupun business woman, melainkan menjadi Mrs...   and live happily ever after (-karena biasa dalam film dongeng anak-anak, or drama komedi romantik ataupun novel-novel cinta sering ada kata-kata:...and they lived happily ever after, the end.) Happily Ever After dalam bahasa Perancis: Ils se marièrent et eurent beaucoup d'enfants (terjemahannya: They married and had many children - menikah dan memiliki banyak anak). Nah loh! Dulunya dalam pemikiran saya yah bener-bener happy ever after. Terdengar naif? Kalau dulu saya menjawab itulah impian saya. Apa jawaban saya saat ini?

Ternyata pernikahan adalah sebuah realita. Berkeluarga dan memiliki anak membuka mata kita - Butuh perjuangan. Hahaha... Perkawinan dan kesulitan sukar dipisahkan, dan begitu kita menikah, kita akan segera menghadapi persoalan dan tanggung jawab yang tidak pernah kita bayangkan dan hadapi sebelumnya. Dengan memiliki pasangan hidup dan keluarga semua menjadi keputusan bersama, berkolaborasi dengan pasangan hidup mulai dari mengatur urusan rumah tangga, merawat dan mendidik anak, mempersiapkan masa depan hingga bagaimana bersama-sama menghadapi sebuah masalah yang pastinya selalu ada dalam hidup manusia. Ternyata istilah "happily ever after" masih bersambung.... "to be continued..." Haha!

Terlebih lagi apabilah sudah menikah, realita pernikahan itu bukan hanya di antara dua insan. Jadi yang istilahnya "Aku dan Kau" harus dikoreksi menjadi Aku, Kau, dan Semuanya. Semuanya siapa? Semuanya adalah dua keluarga besar yang menjadi satu juga dan juga semua yang berada dalam lingkungan kehidupan kita. Banyak tipe keluarga, ada yang konvensional, ada yang demokratis. Apabila kebetulan pasangan tersebut berlatar belakang yang berbeda. Pintar-pintarlah pasutri tersebut memadukannya dan menumbuhkan rasa memaklumi antar keluarga. Apabila tidak ada yang mau mengalah, ya fatal akibatnya.

Menjelang pernikahan anak-anaknya, orang tua biasanya memberikan wejangan: "Pesta hanyalah sebuah perayaan baik itu acara sederhana ataupun mewah, yang penting kalian berdua (pasangan yang akan menikah) ke depannya menjalani pernikahan dengan baik dan saling pengertian. " -- kira-kira begitu intinya. Setelah saya renungkan, mungkin orang tua juga sudah melewati masa-masa up and down dalam pernikahannya. Jadi nasihatnya ngena banget.

Menurut Anda pernikahan yang berhasil dan bahagia itu seperti apa? Salah satu teman saya mengatakan, Pernikahan yang berhasil dan bahagia adalah ketika kita menjadi pribadi yang lebih baik dibandingkan sebelum menikah. Secara tidak langsung semuanya berjalan dengan lebih baik juga. Ini bukan hal yang mudah lho, karena ada kecenderungan setelah berkeluarga: high expectation, harapan yang tinggi terhadap pasangan malah "mencengkram" pasangan untuk berkembang ke arah (yang mungkin lebih baik), dan apabila harapan tidak terpenuhi biasanya kita bisa kecewa ataupun marah kepada pasangan kita yang kemudian menumbuhkan bibit-bibit buruk dalam pernikahan.  
Dr. K. Sri Dhammananda dalam bukunya yang berjudul "Perkawinan yang Bahagia" menuliskan, "Perkawinan adalah persekutuan antara dua individu, yang diperkaya dan ditinggikan jika perkawinan itu membolehkan kepribadian yang bersangkutan tumbuh. Banyak perkawinan hancur berantakan saat sekutu yang satu mencoba 'menelan' sekutu yang lain, ataupun saat satu pihak menuntut kebebasan penuh. Menurut Ajaran Buddha, perkawinan berarti memahami dan menghargai keyakinan dan keleluasaan satu sama lain. Perkawinan yang berhasil selalu merupakan jalan berjalur dua: suka-duka , sukar namun selaras. KESABARAN, TOLERANSI dan SALING PENGERTIAN adalah disiplin yang penting untuk diikuti dan dipraktekkan oleh semua orang dalam perkawinannya. Rasa aman dan puas datang dari saling pengertian yang merupakan KUNCI menuju PERKAWINAN YANG BAHAGIA."

So teman-teman yang sudah berkeluarga, Mari kita sama-sama berlatih kesabaran, toleransi dan saling pengertian terhadap pasangan kita. :)

p.s for my hubby, "Terima kasih untuk selalu sabar terhadapku. Kita sama-sama berjuang demi keluarga yah, Yang"

quote by me:

Life is simple but we insist to make it complicated. (cari masalah dengan menikah?wkwkwkw)

Being alone doesn't mean you're lonely. (untuk teman-teman yang memilih untuk tidak menikah)



2 komentar:

daisy widiya mengatakan...

Wah den seneeeng banget baca tulisanmu lagi.... asik.... ma kasih y:)

MOM in Life mengatakan...

ci Daisy Widiya,
Thank you testinya... Kita sama-sama berlatih yah Ci. Hahaha :)